Tidore, BPMP – Peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia di kawasan timur nusantara dimaknai secara mendalam oleh masyarakat Mareku Kota Tidore Kepulauan. Pada hari Senin, 18 Agustus 2025, sebuah upacara pengibaran bendera Merah Putih digelar di Tanjung Mafutabe, Kelurahan Mareku, yang merupakan lokasi bersejarah pengibaran bendera pertama di kawasan timur Indonesia. Upacara yang berlangsung khidmat ini dipimpin langsung oleh Camat Tidore Utara, Ade Soninga, SE, sebagai Inspektur Upacara.
“Pengibaran bendera di Tidore ini bukan hanya sekadar seremoni, melainkan sebuah penegasan bahwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 juga diakui dan diperjuangkan oleh para leluhur kita di Timur” ujar Ade Soninga. “Tanjung Mafutabe menjadi saksi bisu atas semangat nasionalisme yang tak pernah padam, bahkan ketika pengakuan kemerdekaan masih terbatas di wilayah Jawa dan Sumatera.” Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 menjadi tonggak awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Namun, sejarah mencatat bahwa pengakuan de facto atas kemerdekaan Indonesia pada masa itu masih terbatas di wilayah Sumatra, Jawa, dan Madura. Hal ini dimanfaatkan oleh Belanda yang mendirikan Negara Serikat Indonesia Timur (NIT) di Makassar sebagai provokasi kepada dunia internasional, seolah-olah Proklamasi hanya berlaku terbatas.
Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan, Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat seperti Sangadji Laisa dan Sangadji Laho. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen pemerintah daerah dan komunitas dalam melestarikan nilai-nilai sejarah dan patriotisme.
Dalam suasana yang penuh haru dan bangga, pengibaran bendera dilakukan oleh Paskibraka daerah. Prosesi ini seolah mengulang kembali keberanian para pejuang Tidore, yang kala itu dengan gagah berani mengibarkan Merah Putih sebagai simbol perlawanan dan kesetiaan kepada NKRI, meski harus menghadapi konsekuensi besar dari pihak Belanda.
“keberanian para pejuang Tidore, yang kala itu dengan gagah berani mengibarkan Merah Putih sebagai simbol perlawanan dan kesetiaan kepada NKRI, meski harus menghadapi konsekuensi besar dari pihak Belanda.”
Peringatan ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi momentum untuk menanamkan kembali semangat perjuangan dan persatuan, bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang dibangun dari pengorbanan dan cinta tanah air dari seluruh penjuru negeri, termasuk dari ufuk timur di Tidore.







